Strategi BRI Lawan Kredit Macet Dan Virus Corona

Strategi BRI Lawan Kredit Macet Dan Virus Corona

daftarbankindonesia.web.id Masih berhubungan dengan virus corona ,Beberapa artikel yang akan kami sajikan untuk anda kali ini ,bisa sangat membantu apabila anda ingin mencari informasi yang berikaitan mengenai Strategi BRI Lawan Kredit Macet Dan Virus Corona. Dan dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang membahas dan mengulas mengenai Strategi BRI Lawan Kredit Macet Dan Virus Corona

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) tahun 2019 sebanyak 2,8 persen. Persentase ini dianggap masih dalam batas aman dan sudah memiliki cadangan yang cukup.”Kami cadangkan dengan cadangan yang cukup di mana coverage terhadap NPL cadangan kita mencapai 153 persen,” kata Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso di Gedung BRI, Jakarta, Selasa (18/2).Di tahun 2020 ini, pihaknya akan berusaha menurunkan angka kredit macet (NPL). Diperkirakan penurunan NPL dilakukan dengan restrukturisasi penyelesaian kredit.

Akan ada pemilahan nasabah yang mengalami kredit macet. Mereka akan dikelompokkan untuk dipilah mana yang direstrukturisasi dan yang tidak bisa dilakukan penyelesaian.”Apa bila itu tidak, maka di back end akan lakukan penyelesaian kredit,” kata dia.Selain itu, bank plat merah ini akan mencari nasabah baru dengan memanfaatkan pinjaman dalam bentuk kredit usaha rakyat (KUR). Targetnya, nasabah baru ini berasal dari para pelaku UMKM. Sebab BRI telah menyiapkan anggaran senilai Rp 102,2 triliun untuk dicairkan dalam bentuk kredit.

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Kantor Wilayah BRI Banjarmasin berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 15,4 Triliun di Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sepanjang tahun 2015 hingga 2019. Hal tersebut diungkapkan oleh Corporate Secretary Bank BRI Amam Sukriyanto pada saat acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (08/02).

Amam menambahkan, fasilitas KUR tersebut disalurkan kepada lebih dari 674 ribu debitur. “Salah satu inovasi yang berdampak signifikan terhadap penyaluran KUR BRI yakni digitalisasi bisnis proses, dimana saat ini kami telah memiliki aplikasi BRISPOT, aplikasi khusus untuk memproses pinjaman mikro yang menyederhanakan, mengotomasi dan mendigitalisasi proses pengajuan hingga pencairan pinjaman,” imbuh Amam.

Amam juga menyatakan bahwa perseroan akan terus mendorong penyaluran KUR ke sektor produksi hingga mencapai 60%. “Sektor produksi akan menjadi fokus utama penyaluran karena memberikan dampak yang lebih besar, baik dalam hal penciptaan lapangan pekerjaan serta memberikan dampak yang lebih masif terhadap roda perekonomian Kalsel, Kalteng, Kaltim dan Kaltara,” imbuhnya.

Selama tahun 2019 Bank BRI melalui binaan wilayah Kanwil Banjarmasin telah berhasil menyalurkan KUR senilai Rp 3,9 Triliun kepada lebih dari 157 ribu pelaku UMKM. “Untuk tahun ini Bank BRI siap menyalurkan KUR dengan suku bunga 6% sebagai komitmen dukungan terhadap program pemerintah dalam kaitannya pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” pungkas Amam.Sektor perbankan mulai terdampak wabah Virus Corona yang terjadi di Wuhan, China dan menyebar ke negara lain. Di mana, menurunnya pertumbuhan ekonomi di China ikut berdampak pada perlambatan ekonomi secara global.

Baca Juga : BCA Hanya Sampai 30 Triliun Di 2019

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso mengaku sudah memprediksi perlambatan ekonomi bakal memengaruhi perusahaan. Namun hal ini bukan sesuatu yang baru bagi bank plat merah ini.Pihaknya sudah sering menghadapi turbulensi seperti ini. “Kita sering menghadapi turbulen bahkan volatile seperti ini,” kata Sunarso di Gedung BRi, Jakarta, Selasa (18/2/2020).Sunarso melanjutkan, dalam menghadapi ini bagian risk dan manajemen sudah cukup kuat melindungi keuangan perubahan. Salah satunya dengan menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71.

Penerapan PSAK 71 ini akan mengalokasikan dana cadangan dari total laba perusahaan. Sehingga dana cadangan mampu mengcover perlambatan pertumbuhan ekonomi atau resiko yang mungkin timbul.Tak hanya itu, BRI tahun ini merencanakan pertumbuhan kredit antara 10 persen sampai 12 persen. Begitu juga simpanan dana pihak ketiga juga akan diprediksi akan tumbuh 10 persen hingga 12 persen.Sehingga ada peningkatan laba sebesar 10-11 persen. Begitu juga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) diproyeksikan 89 persen sampai 90 persen.Sunarso menambahkan RUU Omnibus Law diprediksi akan mampu memberikan bantuan dalam menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Kemudian dengan kebijakan fiskal yang sangat akomodatif dan kebijakan-kebijakan bank sentral yang sangat support terhadap pertumbuhan,” kata Sunarso.PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) tahun 2019 sebanyak 2,8 persen. Persentase ini dianggap masih dalam batas aman dan sudah memiliki cadangan yang cukup.”Kami cadangkan dengan cadangan yang cukup di mana coverage terhadap NPL cadangan kita mencapai 153 persen,” kata Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sunarso di Gedung BRI, Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Di tahun 2020 ini, pihaknya akan berusaha menurunkan angka kredit macet (NPL). Diperkirakan penurunan NPL dilakukan dengan restrukturisasi penyelesaian kredit.Akan ada pemilahan nasabah yang mengalami kredit macet. Mereka akan dikelompokkan untuk dipilah mana yang direstrukturisasi dan yang tidak bisa dilakukan penyelesaian.”Apa bila itu tidak, maka di back end akan lakukan penyelesaian kredit,” kata dia.Selain itu, bank plat merah ini akan mencari nasabah baru dengan memanfaatkan pinjaman dalam bentuk kredit usaha rakyat (KUR). Targetnya, nasabah baru ini berasal dari para pelaku UMKM. Sebab BRI telah menyiapkan anggaran senilai Rp 102,2 triliun untuk dicairkan dalam bentuk kredit.

Related posts